Selasa, 21 Desember 2021

Latar Belakang



Gambar: Kisruh 'Kudeta' Keraton Kasepuhan Cirebon, Ini Silsilah Rahardjo Djali (detik.com)


Sudah diketahui bersama bahwa Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan kebudayaan. Kebudayaan yang menjadi aset paling mahal bagi negara sudah sepatutnya untuk tetap dilestarikan sebagai bentuk identitas dan rasa bangga terhadap negara. Dari puluhan ribu kebudayaan yang dimiliki Indonesia, saya tertarik untuk membahas kebudayaan Cirebon karena memang saya terlahir dari keluarga yang berasal dari Cirebon. Cirebon merupakan kota pesisir yang terletak di Provinsi Jawa Barat di bagian Utara berbatasan langsung dengan Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Kota ini memiliki potensi besar dalam keberagaman budaya dan keseniannya. Kondisi Kota Cirebon yang berada di perbatasan Jawa Barat dengan Jawa Tengah inilah yang menjadikan Kota Cirebon memiliki beragam corak budaya, seni, dan arsitektur yang unik sebagai dampak dari akulturasi budaya.

Kota Cirebon juga memiliki 4 keraton yaitu Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, Keraton Kacirebon, dan Keraton Kapribonan yang merupakan bagian penting dari sejarah awal berdirinya Kota Cirebon dan pusat peradaban kebudayaan Cirebon. Saat ini, beberapa kegiatan kebudayaan yang bersifat tradisional seperti Kirab Budaya, Festival Keraton Nusantara, dan Festival Gotrasawala masih dilaksanakan secara rutin di Kota Cirebon. Bahkan Festival Music Jazz Pantura yang sifatnya lebih modern juga dilaksanakan di Kota Cirebon. Selain terkenal akan budayanya, Kota Cirebon juga terkenal akan seninya, seperti Batik Trusmi, Tari Topeng, Sintren, Kesenian Gembyung, Genjring Rudat, dan Angklung Bungko. Kebudayaan dan kesenian khas Cirebon yang kaya ini harus dilestarikan agar tetap terjaga eksistensinya hingga ke generasi-generasi selanjutnya.

Target Users

Target dari paket informasi ini ditujukan untuk generasi muda sebagai upaya mempertahankan, meningkatkan, dan mengenalkan kebudayaan-kebudayaan khas Cirebon. Dengan dibuatnya paket informasi ini diharapkan bisa memenuhi kebutuhan informasi kebudayaan generasi muda dalam merepresentasikan kehidupan sosialnya dan sebagai bentuk warga negara yang bangga atas kebudayaan milik daerah dan negaranya.

Kearifan Lokal dalam Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Cirebon



Simbol warisan sosial budaya Sunan Gunung Jati dapat dikenali dalam banyak hal, beberapa di antaranya masih terlihat hingga saat ini. Siddique (1977:79-82) memberikan gambaran mengenai simbol-simbol tersebut antara lain simbol kosmis dan simbol-simbol yang berasal dari ajaran Islam. Simbol kosmis (cosmic Symbol) diwujudkan dalam bentuk payung sutra berwarna kuning dengan kepala naga. Payung ini melambangkan sebagai semangat perlindungan dari raja kepada rakyatnya. Sementara simbol-simbol yang berasal dari ajaran Islam dibagi ke dalam empat tingkatan, yaitu syari`at, tarekat, hakekat, dan ma'rifat. Tahap pertama adalah syari'at yang disimbolkan dengan wayang. Wayang adalah perwujudan dari manusia, dan dalang adalah Allah. Tahap kedua adalah tarekat yang disimbolkan dengan barong. Tahap ketiga adalah hakekat yang disimbolkan dengan topeng. Dan tahap keempat adalah ma'rifat yang disimbolkan dengan ronggeng. Wayang, barong, topeng, dan ronggeng adalah empat jenis dari pertunjukan kesenian masyarakat Jawa (Cirebon).

Simbol-simbol di atas seringkali muncul dalam berbagai acara selataman-selamatan (sedekahan) yang menjadi tradisi di bulan-bulan tertentu dan perayaan-perayaan kesislaman yang berasal dari tradisi Sunan Gunung Jati. Mungkin sekali bahwa selamatan-selamatan (sedekahan) itu pada mulanya berasal dari shadaqah sunnah yang dianjurkan oleh para wali. Tujuan penyelenggaraannya tidak lain adalah untuk menyemarakan syiar islam sekaligus memperingati hari besar peristiwa-peristiwa penting dalam islam. Shadaqah ini pada masa sekarang, karena telah jauh masanya dari masa para wali itu, telah menyimpang menjadi sinkretisme yang sesat dan bid'ah. Masyarakat luas sudah tidak tahu menahu lagi konteks persoalan apalagi nilai filosofis yang semula dianjurkan dan dijelaskan oleh para wali (Saksono, 1995:151).

Sementara itu, upacara sekaten menurut Sulendraningrat (1985:85) berasal dari kata sekati atau sukahati, nama dari gamelan alat dakwah yang pertama dibawa oleh Ratu Ayu, istri Pangeran Sabrang Lor (Sultan Demak-II), setelah wafat suaminya, sebagai benda kenang-kenangan almarhum suaminya. Ada pula yang memberi pengertian bahwa gamelan sekati diartikan sebagai syahadatain (syahadat dua), yakni dua kalimat syahadat. Konon ketika orang-orang ingin menonton gamelan, mereka diperkenankan asal mengucapkan dua kalimat syahadat. Tradisi Sekaten untuk dirayakan sebagai perayaan memperingati maulid Nabi Muhammad SAW yang dilangsungkan di seluruh kerajaan Islam Jawa. Perayaan sekaten ini biasanya dipusatkan di alun-alun ibukota kerajaan Islam yang dapat dinikmati bersama khalayak ramai pada umumnya.

Perayaan Sekaten ini dimulai tujuh hari sebelum tiba peringatan hari Maulid Nabi Muhammad SAW yang tepatnya jatuh pada tanggal 12 Rabi'ul Awal. Sekaten diakhiri dengan upacara garebeg, yaitu upacara yang berpuncak pada siratun nabiy (pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW) dan sedekah sultan, yakni membagi-bagikan makanan hadiah dari sultan di Mesjid Agung. Acara ini dihadiri oleh Sultan dan pembesar-pembesar kerajaan. Sekaten ini satu-satunya upacara dan perayaan terbesar karena pergelarannya merupakan upacara memperingati hari lahir Nabi Muhamad SAW.

Dalam saat-saat garebeg inilah, adipati-adipati, raja-raja muda, bupati-bupati, dan pembesar-pembesar wilayah kerajaan diterima menghadap Sultan untuk menunjukkan sikap bakti dan hormat taatnya kepada Sultan sembari mangayu bagja pada hari yang mulia lagi meriah itu (lihat Saksono, 1995:150-151). Upacara peringatan maulid Nabi Muhammad SAW di keraton Cirebon menurut Sulendraningrat (1985:83-84) mulai diadakan dan dilaksanakan secara besar-besaran ketika pengangkatan Sunan Gunung Jati sebagai wali kutub pada tahun 1470 M. Perayaan ini di kalangan masyarakat Cirebon lebih dikenal dengan iring-iringan panjang jimat. Panjang jimat ini mempunyai beragam pengertian. Panjang artinya terus menerus diadakan setiap tahun, dan jimat maksudnya dipuja-puja. Panjang Jimat juga mempunyai arti sebuah piring besar yang terbuat dari kuningan atau porselen. Piring ini menurut cerita tradisi merupakan salah satu benda pusaka keraton pemberian dari Sanghyang bango kepada Pangeran Walangsungsang (Sulendraningrat, 1985:84).

Aktivitas perayaan keagamaan (islam) yang dilakukan oleh kerabat keraton menunjukkan bahwa Sunan Gunung Jati dan keturunannya dalam struktur sosial, dengan mengutip pendapat Geertz dalam taksonomi santri, abangan, dan priyayi oleh Siddique (1977:91) dimasukkan ke dalam anak bangsa kaum santri sebagai kegitimasi dari peran, fungsi, dan kedudukan esensial SGJ sebagai penatagama.

Selengkapnya baca di sini

Alasan Sumber dipilih

Sumber yang disebutkan di atas atau yang akan di jelaskan berikutnya merupakan artikel yang memuat informasi-informasi kebudayaan Cirebon yang sangat erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Sumber-sumber yang telah disebutkan sangat relevan dengan topik kebudayaan dan menyebutkan banyak contoh-contoh kebudayaan Cirebon. Selain Kearifan Lokal dalam Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Cirebon, berikut beberapa sumber yang bisa diakses untuk mengetahui secara mendalam mengenai Kebudayaan Cirebon.

Eksistensi Keraton di Cirebon: Kajian Persepsi Masyarakat Terhadap Keraton-keraton di Cirebon



Karya tulis ini merupakan resume hasil penelitian yang mengungkapkan gambaran mendalam mengenai eksistensi keraton di tengah peradaban masa kini dengan fokus telaah pada persepsi masyarakat terhadap keraton. Keraton kini hanya dianggap sebagai pusat kebudayaan bagi masyarakat setempat, bukan lagi merupakan sebuah wilayah kekuasaan politik yang independen.

Selengkapnya baca di sini

Keraton Kanoman di Cirebon (Sejarah Dan Perkembangannya)



Keraton merupakan tempat kediaman raja, yang di dalamnya terdapat beberapa bangunan. Di dalam keraton, sultan melaksanakan tugasnya sebagai pemimpin segala kegiatan politik dan sosial budaya. Keraton Kanoman didirikan tahun 1510 Saka atau 1588 M oleh Pangeran Muhamad Badrudin Kartawidjaja atau Sultan Anom. Keraton Kanoman bukan hanya digambarkan sebagai kota tradisional melainkan juga tempat penyelenggaraan upacara Maulid Nabi, yaitu sebuah upacara yang dilakukan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhamad SAW.

Selengkapnya baca di sini

Museum Kebudayaan di Cirebon



Cirebon menjelma menjadi suatu daerah yang memiliki heterogenitas budaya yang cukup kompleks. Borderland menghasilkan suatu komunitas unik, yang jika ditilik dari sejarahnya sudah merupakan campuran antara Arab, India dan China. Hal ini terlihat dari salah satu kereta kencana yang paling terkenal yaitu Paksi Naga Liman yang merupakan gabungan dari tiga ekor binatang yang dianggap agung dari Arab, India, dan China yang memiliki ilustrasi fiktif dan makna yang sangat luar biasa. Dari semua fenomena yang terjadi itulah, maka perlu adanya suatu penanganan untuk menjadikan kebudayaan Cirebon lebih dikenal baik itu di seluruh Indonesia maupun di mancanegara. Oleh karena itu, demi menjaga kelestarian dan kesinambungan benda- benda seni dan benda-benbda peninggalan bagi masyarakat dimasa mendatang, untuk itu perlu dilestarikan dan dijaga keberadaannya. Salah satu wadah yang dapat menjadi icon kota adalah adanya museum budaya yang representatif.

Selengkapnya baca di sini

Penyerapan Nilai-Nilai Budaya Lokal Babad Cirebon untuk Membina Karakter Mahasiswa Melalui Pembelajaran Menulis Kreatif



Melemahnya nilai-nilai budaya bangsa di kalangan pemelajar seharusnya menjadi keprihatinan bangsa. Budaya daerah yang seharusnya menjadi kebanggaan sudah mulai dilupakan oleh masyarakatnya. Untuk itu perlu ada upaya mengenalkan nilai-nilai budaya lokal kepada mahasiswa sebagai calon pendidik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan hasil analisis nilai-nilai budaya lokal Babad Cirebon dan mengembangkan desain model pembelajaran menulis kreatif berbasis kearifan lokal.

Selengkapnya baca di sini

Cirebon Cultural Center dengan Pendekatan Arsitektur Hijau



Perkembangan Kota Cirebon semakin maju terutama dalam sektor kesenian dan pariwisata. Semakin berkembangnya kesenian di Kota Cirebon ini ditandakan dengan terdapat cukup banyaknya sanggar kesenian, di antaranya terdapat sebanyak 137 sanggar yang masih terdaftar di Disporabudpar Kota Cirebon. Di Kota Cirebon juga terdapat beraneka ragam kuliner khas Cirebon dan kebudayaan keraton yang merupakan salah satu peninggalan paling bersejarah selama Kota Cirebon berdiri. Yang paling terkenal dari kebudayaan dan kesenian Cirebon adalah Kirab Budaya, Festival Keraton Nusantara, Festival Seni dan Budaya Pesisiran, Festival Gotrasawala, Sintren, Tari Topeng, dan Batiknya.

Selengkapnya baca di sini

Gerak Ruang Kawasan Keraton Kasepuhan



Teori lokal mulai dikembangkan setelah adanya kegagalan teori-teori yang didasarkan oleh filsafat rasionalisme. Paradigma Postmodernisme semakin memberi peluang pengembangan teori yang berbasis lokalitas dan komunitas. Kawasan Keraton Kasepuhan yang berdiri sejak abad ke 14 kaya akan nilai-nilai lokal. Didasarkan oleh pendekatan fenomenologi menangkap suatu fenomena yang menunjukkan nilai lokalitas berupa gerak ruang.

Selengkapnya baca di sini

Strategi Pengembangan Urban Heritage Tourism Kota Cirebon, Jawa Barat



Potensi wisata suatu kota dapat dikembangkan melalui peninggalan sejarah kota tersebut. Sejarah dari Cirebon dimulai sekitar abad ke-15, sebuah desa kecil di Pantai Laut Jawa bernama Muara Jati dan berkembang ke dalam kerajaan dengan seorang Raja bernama Walangsungsang (Cakrabumi). Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui potensi dan strategi untuk mengembangkan konsep wisata urban heritage di Kota Cirebon.

Selengkapnya baca di sini

Latar Belakang

Gambar:  Kisruh 'Kudeta' Keraton Kasepuhan Cirebon, Ini Silsilah Rahardjo Djali (detik.com) Sudah diketahui bersama bahwa Indonesia ...