Selasa, 21 Desember 2021

Kearifan Lokal dalam Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Cirebon



Simbol warisan sosial budaya Sunan Gunung Jati dapat dikenali dalam banyak hal, beberapa di antaranya masih terlihat hingga saat ini. Siddique (1977:79-82) memberikan gambaran mengenai simbol-simbol tersebut antara lain simbol kosmis dan simbol-simbol yang berasal dari ajaran Islam. Simbol kosmis (cosmic Symbol) diwujudkan dalam bentuk payung sutra berwarna kuning dengan kepala naga. Payung ini melambangkan sebagai semangat perlindungan dari raja kepada rakyatnya. Sementara simbol-simbol yang berasal dari ajaran Islam dibagi ke dalam empat tingkatan, yaitu syari`at, tarekat, hakekat, dan ma'rifat. Tahap pertama adalah syari'at yang disimbolkan dengan wayang. Wayang adalah perwujudan dari manusia, dan dalang adalah Allah. Tahap kedua adalah tarekat yang disimbolkan dengan barong. Tahap ketiga adalah hakekat yang disimbolkan dengan topeng. Dan tahap keempat adalah ma'rifat yang disimbolkan dengan ronggeng. Wayang, barong, topeng, dan ronggeng adalah empat jenis dari pertunjukan kesenian masyarakat Jawa (Cirebon).

Simbol-simbol di atas seringkali muncul dalam berbagai acara selataman-selamatan (sedekahan) yang menjadi tradisi di bulan-bulan tertentu dan perayaan-perayaan kesislaman yang berasal dari tradisi Sunan Gunung Jati. Mungkin sekali bahwa selamatan-selamatan (sedekahan) itu pada mulanya berasal dari shadaqah sunnah yang dianjurkan oleh para wali. Tujuan penyelenggaraannya tidak lain adalah untuk menyemarakan syiar islam sekaligus memperingati hari besar peristiwa-peristiwa penting dalam islam. Shadaqah ini pada masa sekarang, karena telah jauh masanya dari masa para wali itu, telah menyimpang menjadi sinkretisme yang sesat dan bid'ah. Masyarakat luas sudah tidak tahu menahu lagi konteks persoalan apalagi nilai filosofis yang semula dianjurkan dan dijelaskan oleh para wali (Saksono, 1995:151).

Sementara itu, upacara sekaten menurut Sulendraningrat (1985:85) berasal dari kata sekati atau sukahati, nama dari gamelan alat dakwah yang pertama dibawa oleh Ratu Ayu, istri Pangeran Sabrang Lor (Sultan Demak-II), setelah wafat suaminya, sebagai benda kenang-kenangan almarhum suaminya. Ada pula yang memberi pengertian bahwa gamelan sekati diartikan sebagai syahadatain (syahadat dua), yakni dua kalimat syahadat. Konon ketika orang-orang ingin menonton gamelan, mereka diperkenankan asal mengucapkan dua kalimat syahadat. Tradisi Sekaten untuk dirayakan sebagai perayaan memperingati maulid Nabi Muhammad SAW yang dilangsungkan di seluruh kerajaan Islam Jawa. Perayaan sekaten ini biasanya dipusatkan di alun-alun ibukota kerajaan Islam yang dapat dinikmati bersama khalayak ramai pada umumnya.

Perayaan Sekaten ini dimulai tujuh hari sebelum tiba peringatan hari Maulid Nabi Muhammad SAW yang tepatnya jatuh pada tanggal 12 Rabi'ul Awal. Sekaten diakhiri dengan upacara garebeg, yaitu upacara yang berpuncak pada siratun nabiy (pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW) dan sedekah sultan, yakni membagi-bagikan makanan hadiah dari sultan di Mesjid Agung. Acara ini dihadiri oleh Sultan dan pembesar-pembesar kerajaan. Sekaten ini satu-satunya upacara dan perayaan terbesar karena pergelarannya merupakan upacara memperingati hari lahir Nabi Muhamad SAW.

Dalam saat-saat garebeg inilah, adipati-adipati, raja-raja muda, bupati-bupati, dan pembesar-pembesar wilayah kerajaan diterima menghadap Sultan untuk menunjukkan sikap bakti dan hormat taatnya kepada Sultan sembari mangayu bagja pada hari yang mulia lagi meriah itu (lihat Saksono, 1995:150-151). Upacara peringatan maulid Nabi Muhammad SAW di keraton Cirebon menurut Sulendraningrat (1985:83-84) mulai diadakan dan dilaksanakan secara besar-besaran ketika pengangkatan Sunan Gunung Jati sebagai wali kutub pada tahun 1470 M. Perayaan ini di kalangan masyarakat Cirebon lebih dikenal dengan iring-iringan panjang jimat. Panjang jimat ini mempunyai beragam pengertian. Panjang artinya terus menerus diadakan setiap tahun, dan jimat maksudnya dipuja-puja. Panjang Jimat juga mempunyai arti sebuah piring besar yang terbuat dari kuningan atau porselen. Piring ini menurut cerita tradisi merupakan salah satu benda pusaka keraton pemberian dari Sanghyang bango kepada Pangeran Walangsungsang (Sulendraningrat, 1985:84).

Aktivitas perayaan keagamaan (islam) yang dilakukan oleh kerabat keraton menunjukkan bahwa Sunan Gunung Jati dan keturunannya dalam struktur sosial, dengan mengutip pendapat Geertz dalam taksonomi santri, abangan, dan priyayi oleh Siddique (1977:91) dimasukkan ke dalam anak bangsa kaum santri sebagai kegitimasi dari peran, fungsi, dan kedudukan esensial SGJ sebagai penatagama.

Selengkapnya baca di sini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Latar Belakang

Gambar:  Kisruh 'Kudeta' Keraton Kasepuhan Cirebon, Ini Silsilah Rahardjo Djali (detik.com) Sudah diketahui bersama bahwa Indonesia ...